Elegi Seorang Santri (Mengenang KH.A.Warits Ilyas)

Oleh: Naufil Istikhari

“Jangan sampai keluar dari garis Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Tetaplah istiqamah!” Begitulah pesanmu (KH. A. Warits Ilyas) ketika aku beberapa kali sowan ke sana. Guru, aku tak sempat lagi mengadu rindu. Engkau telah “dipanggil” dan meninggalkan santrimu terlebih dahulu.

Di sini, melalui sepucuk surat ini, aku akan mencoba mengorek kembali, jutaan kenangan yang terpatri, tentangmu yang begitu berarti. Guru, saat aku duduk di dekatmu, lalu engkau menasehatiku dengan suara paraumu yang khas, aku seperti mendapat sentuhan energi yang meminta diri untuk selalu menjadi lebih berarti.

Tak terasa, tiba-tiba air mataku meleleh tatkala mendengar engkau baru saja “pergi” (22/02). Antara kehilangan dan penyesalan berkecamuk di dalam hati. Betapa tidak, sosokmu yang menjadi inspirasi banyak santri, kini pergi meninggalkan kami. Rasa duka pasti ada. Tetapi tak ada yang dapat aku lakukan kecuali menguntai kiriman al-fatihah untukmu, sekadar tanda bahwa dalam keadaan “tiada”, engkau akan terus “hadir” bersamaku.

Sebagai dewan Pengasuh PP. Annuqayah,engkau memiliki kharisma yang tiada duanya. Tindak-tandukmu menjadi acuan orang ramai. Engkau kiai yang disegani, setia mengurus pesantren, tetapi pada saat yang sama juga aktif di panggung politik nasional, lebih-lebih di pentas lokal—tohpendirianmu tak berpindah walau sejengkal.

Guru, sosokmu menjadi oase di tengah tandusnya politik elektroral. Engkau meniti karir di PPP tanpa terpesona oleh pesolek citra. Saat PBNU membentuk Tim Lima untuk membidani lahirnya PKB, engkau termasuk salah satu di dalamnya. Untuk sementara, engkau “cuti” dari PPP. Namun setelah PKB resmi berdiri, engkau memilih kembali ke partai asalmu.

Guru, aku yakin, seyakin-yakinnya, tidak ada sedikit pun debu pragmatisme yang menghinggapimu. Meskipun godaan-godaan datang bergantian, engkau tetap pada satu pendirian: istiqamah. Tak mudah memosisikan diri sebagai orang konsekuen sepertimu di tengah-tengah dahsyatnya daya tarik politik. Apalagi harus melahirkan partai lain, yang itu artinya menambah saingan bagi partaimu sendiri.

Suksesi PKB berjalan lancar. Sangat mungkin engkau jadi orang nomor satu di PKB seandainya engkau mau. Namun engkau bukanlah tipe kiai-politisi kebanyakan (seperti yang “dicurigai” A. Yusrianto Elga dalam tulisannya tentang Politik Kiai di Majalah Muara). Engkau pelan-pelan pamit undur diri, lalu kembali menata partainya sendiri. Guru, engkau adalah representasi kukuh ulil amriyang begitu menginspirasi.

Dalam berpolitik, aku tahu, engkau selalu tegas membedakan mana fasilitas negara dan mana yang tidak. Sehingga dalam menggunakannya pun, engkau setia berpijak pada kejujuran. Engkau tak sudi menggunakan fasilitas negara untuk urusan rumah tangga.

Pernah, setelah engkau pulang dari kantor, ada acara mendadak di daerah X. Kali ini murni acara pribadi. Tentu cukup masuk akal jika engkau langsung berangkat menggunakan mobil dinasmu. Jalurnya sama dengan arah pulang ke Guluk-Guluk. Hanya saja tempatnya agak jauh dari jalan raya. Lagi pula, tidak akan ada orang yang mempertanyakanmu. Siapa yang berani menegurmu? Tak seorang pun.

Tapi aku tahu, engkau tak pernah mau bernegosiasi dengan kolusi. Engkau putuskan mengontak sopir satunya untuk berangkat membawa mobil pribadi, lalu menyuruh sopir sebelumnya untuk membawa pulang mobil dinasmu.

Guru, sungguh ini benar-benar kejadian langka di abad yang penuh dengan orang-orang loba. Di saat-saat banyak kiai terlelap oleh manisnya kursi, lalu lupa pada janji-janji, engkau tak bergeser meski satu senti. Politik bagimu hanyalah jalan, bukan tujuan. Banyak kiai-politisi gagap membedakan jalan dan tujuan, sehingga berbagai macam kepentingan sering dicampuradukkan. Engkau tidak. Prinsipmu telah menjagamu agar tidak tertarik oleh lirikan-lirikan penyalahgunaan kekuasaan.

Engkau menebar jaring-jaring keteladanan dan memberi contoh bagaimana seharusnya berpolitik tanpa minta untuk dilirik. Pengabdianmu kepada negara, masyarakat serta pesantren sudah pantas ditulis di papan sejarah. Tapi, apalah artinya itu semua. Bagimu, tanggung jawab sosial-keagamaan jauh lebih diutamakan ketimbang nama besarmu sendiri. Engkau tak mau disebut-sebut, apalagi dimeriahkan dengan teriakan-teriakan. Guru, tatap matamu seperti memantulkan makna: “Tak usah kenang aku dan pesantrenku, cukup kau teruskan nilai-nilai kepesantrenan dengan berkesinambungan.”

Guru, aku masih ingat, ketika mengaji kitab Syarh al-Hikam karya Ibn‘Athaillah as-Sakandari kepadamu di pesantren dulu. Dalam aforisme nomor 11, terdapat kalimat “Idfin wujudaka fi ardli al-khumuli # fama nabata mimma lam yudfan la yatimmu natajuhu”, (sembunyikan wujudmu pada tanah yang tak dikenal # sebab sesuatu yang tumbuhdari biji yang tidak ditanam, tidaklah berbuah sempurna). Prinsip itulah yang juga engkau pegang. Hingga maut menjelang.

Sudah berapa tawaran dari pemerintah untuk memugar dan membangun pemakaman leluhurmu. Juga banyak donatur yang bersedia menyumbang untuk haul pengasuh-pengasuh Annuqayah. Dengan rendah hati, engkau menolaknya. Alasanmu selalu sama: “Cukup Allah yang membalasnya. Tak perlu repot-repot mengenangnya dengan acara formal.” Ya, engkau memang lebih sukaorang meneladani sikapnya ketimbang terpukau oleh seremoni-seremoni yang sehari jadi.

Engkau benar-benar mengunyah hikmah dari Ibn ‘Athaillah. Engkau tak pernah memanfaatkan nama untuk melambungkan kuasa dan citra. Justru karena itu, kharisma menyemerbak dari sosokmu. Pantas jika orang-orang merasa kehilangan, merasa tak siap ditinggalkan. Guru, benar kata Bisri Effendy dalam Annuqayah: Gerak Transformasi Sosial di Madura (1990), bahwa perjuangan kiai-kiai Annuqayah, termasuk dirimu, menebar aroma sejuk di tengah-tengah kerasnya sosio-kultur Madura.

Guru, aku menulis ini semata-mata karena rindu. Aku bukanlah murid yang setia pada setiap petuahmu. Seringkali aku melakukan kecangkolangan-kecangkolangan padamu. Dalam banyak hal, kita beda jauh, dan tak mungkin bertemu. Tapi aku yakin, engkau akan tetap bersemayam di dalam kalbu. Sebab, “aku santrimu” dan “engkau guruku”. Di akhir persimpanganini, aku berdiri memegang tangan, sambil meratap syahdu: “Selamat Jalan,Guru!”.

Dikutif Dari FB Naufil Istikhari  dan Blog Rumah Berdua