2014 adalah tahun politik. Akan ada banyak momentum pemilihan. Setiap pesta demokrasi, selalu menyala harapan, di tengah utopia akan narasi kebangkitan NKRI dari keterpurukan. Tidak hanya harapan bagi bangsa ini, tapi geliat harap-harap cemas juga dirasakan pada setiap caleg dan calon pemimpin yang mengadu nasib dan perutungan menjadi wakil dan pelayan dari rakyat. Disinilah, puluhan tahun lamanya, NU selalu andil bagian dan sering diseret-seret dalam dinamika politik nasional.
Walau dalam catatan sejarah, NU pernah menjadi salah satu partai politik,[1] namun, secara umum, politik NU adalah politik kebangsaan, kerakyatan dan kenegaraan. Politik demikianlah yang hingga kini menjadikan NU tetap setia kepada NKRI dan memiliki kometmen kebangsaan yang jelas.[2]
Setelah tahun 1984, menyatakan kembali ke khittah 1926, dan tahun 1998, mendirikan PKB sebagai partai aspirasi warga nahdiyin, bisa dikatakan, NU telah menyepi dari politik praktis. Namun tetap saja, di setiap momentum politik, lambang dan tokoh-tokoh NU selalu di bawa dan diseret untuk kepentingan politik kekuasaan.
Saya pernah bepergian, dari Sumenep menuju Surabaya, di pinggir-pinggir jalan, saya melihat poster poster caleg yang menyertakan lambang NU di sebelah fotonya. Kalau tidak lambang, biasanya juga tokoh-tokoh besar NU, terutama Gus Dur, disamping potretnya. Partai politik yang sering menggunakan NU adalah PKB. Mungkin, bila PKB, bisa dimaklumi, karena secara historis, NU dan Gus Dur punya ikatan sejarah yang cukup jelas[3]. Yang aneh dan menggelikan, di Surabaya, saya lihat salah satu caleg PPP, juga memasang baliho di pinggir jalan, yang berniat dan berupaya untuk terus menjaga dan melanjutkan perjuangan Gus Dur.
Saya kira, tak selesai hanya di poster, baliho dan spanduk yang besar-besar, pun juga saya mulai di ajak-ajak ngumpul dengan orang-orang yang mengaku sebagai kader NU, mengabdi kepada kiai, dan akan memperjuangkan aspirasi warga nahdiyin, walaupun, selama saya aktif di PMII, dan selalu ke kantor Lakpesdam NU Sumenep, saya tidak bertemu orang itu ke kantor NU. Sama sekali tidak terlihat ngurus NU. Tiba-tiba muncul jadi pahlawan yang akan memperjuangkan NU dengan syarat bisa dipilih di pemilu.
Ataupun, kadang-kadang, ada sebagian pengurus NU, yang namanya hanya ada di struktur, tapi tidak pernah ke kantor NU, untuk ngurus pemberdayaan dan lain semacamnya, secara tiba-tiba tampil keluar ke halaman publik, nyalon menjadi dewan, kemudian secara tiba-tiba menjadi sangat dekat dengan NU. Mengandalkan identitasnya di NU, menabur kharisma, untuk menuai kuasa.
Tidak hanya dari identitasnya yang telah menjadi komoditi politik. Namun pula, dunia politik yang kian kacau dan citranya kian jelek juga layak disikapi, dikaji dan diperjuangkan. Praktek memperebutkan kekuasaan ini, selalu saja mengandalkan modal uang. Uang tidak hanya menjadi ongkos politik. Lebih dari itu, sebagai many politik, uang suap, dan lain semacamnya. Hingga pun, praktek politik kian kisruh dari setiap masanya.
Paling tidak, ini diperlihatkan, di Madura, melalui Pilkada Jatim, tahun 2009 dan tahun 2013. Pun juga hasil pilkada 2013, di tiga kabupaten di Madura, yakni Pamekasan, Sampang dan Bangkalan. Dalam catatan saya[4], kisruh politik di Madura dan lebih jauh di tingkat Jawa Timur, adalah narasi tentang kekisruhan politik di Indonesia. Bagai fenomena gunung es, puncak yang terlihat lebih kecil dari akar yang sebenarnya.
Pun demikian, bagai virus vampir, kisruh politik itu juga merembet kepada institusi lain, berupa MK. MK yang kabarnya, selalu bisa menyelesaikan masalah sengketa politik, juga tersangkut masalah, berupa tertangkapnya Akil Mokhtar, karena kasus suap.[5] Lalu, tentang bangsa selalu merasakan kegetiran ini, muncul parodi sederhana, kalau orang mimpi basah, namanya akil baligh, tapi kalau tertangkap basah, namanya Akil Mukhtar.
Partai-partai politik juga adalah sarang koruptor. A. Yusrianto Elga, begitu menggambarkannya, dalam bukunya, Apapun Partainya, Korupsi Hobynya.[6] Buku ini, berisi catatan dan ulasan, serta data kongkret dari kasus korupsi yang telah dijatukan vonis, lintas partai politik yang ada di Indonesia.
Ini hanya salah satu tantangan dari dunia politik yang ada di Indonesia. NU sebagai ormas terbesar akan juga dituntut mampu untuk menyelesaikan ragam soal tersebut. Sejarah singgungan NU adalah sejarah perjuangan politik yang cukup besar dan di segani, terutama masyarakat yang ada di desa. NU tidak hanya menjadi organisasi terbesar. Namun juga menjadi agama tersendiri. Tidak salah kiranya, bilamana Ahmad Baso menyebutnya sebagai agama NU.
Masalahnya, NU hari ini, tak seindah masa lalu. Masa lalu selalu menyisakan cerita heroik, patriotisme dan nasionalisme yang cukup dekat dengan masyarakat. Tokoh sekaliber KH. Wahab Hasbullah dinarasikan demikian dekat bersama rakyat oleh Adam Malik.[7] KH. Hasyim Asy’ari, adalah kiainya para kiai. Kiai sahal pun cukup disegani.[8] Melalui tokoh kiai, NU besar di masa lalu.
Namun juga, ternyata, setiap masa, entah masa lalu dan hari ini, selalu ada konflik. Masih terekam jelas dalam ingatan, ketika saya mendengar cerita dan membaca buku tentang NU, saya menemukan, masa lalu NU ada cerita tentang kubu KH. As’ad Syamsul Arifin dengan KH. Idham Khalid. Kubu Gus Dur dengan kiai-kiai sepuh lain ketika NU mau menerima pancasila. Kabarnya, tradisi NU adalah tradisi konflik.
Ceritera tentang konflik ini, pernah suatu waktu, malam senin, dengan tanggal yang tidak terlacak, sahabat Mahsun, alumni PMII jogja, ketua KNPI Sumenep, pernah berdikusi bersama dengan menghadirkan Ahmad Baso dalam forum. Mahsun bercerita, pernah sowan dengan kiai, setelah baru selesai konfrensi cabang PMII di Jogja. Ia dan pihaknya kalah dalam memperebutkan jabatan ketua. Terjadi konflik di tubuh PMII jogja masa itu. Ia tidak akur lagi dengan kepengurusan yang sah.
Sang kiai, salah satu tokoh NU itu, pun mengharapkan untuk kembali bersatu dan tetap menjaga keutuhan PMII. Tiba-tiba Mahsun, mengatakan secara tiba-tiba, kalau PMII dan organisasi kader NU yang lain, tidak ada konflik, khawatir tidak diakui sebagai orang NU, karena tokoh-tokoh NU sering berkonflik. Spontan saja, tokoh kiai dalam cerita itu, tertawa. Termasuk saya, sahabat-sahabat lain, dan Ahmad Baso juga tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita itu.
NU yang selalu punya cerita konflik, bukan hanya dikarenakan tidak ada kerjaan. Kadang-kadang pun, ini karena kerjaan orang lain, untuk memecah belah NU. Greg Barton cukup lihay melukiskan bagaimana, NU waktu dipimpin Gus Dur, menghadapi tantangan dari si tangan besi Soeharto, ketika masih Orde baru[9]. Kerjaan orang luar memang begitu menyesakkan dan benar-benar menusuk dalam ruang ingatan kebangsaan kita.
Bahkan pun, saya mendengar cerita lain, dari Mas Adnan Anwar, salah satu alumni PMII dan menjadi pengurus besar NU, bahwa PMII yang independen dari NU, bukan hanya berangkat dari idealisme mahasiswa yang tidak mau menjadi bagian dari dunia politik, pun juga tidak dilepaskan dari kerjaan orde baru untuk melepaskan PMII dari NU.
Sungguh miris dan njelimet. NU bukan hanya memiliki tantangan diluar, tapi punya masalah di dalam, serta berusaha dilemahkan oleh banyak orang. Patut dicatat, dinamika NU adalah pula dinamika kebangsaan yang terus bergulir bersama waktu. Saya percaya, bila di Indonesia, tidak ada NU, bisa jadi, nasibnya, tidak akan jauh beda dengan bangsa-bangsa di timur tengah. Hancur porak poranda, oleh konflik tak berkesudahan.
Maka pun, lewat Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU[10], saya mendapatkan hidayah pengetahuan tentang narasi besar yang akan dilakukan ke depan. Saya percaya, narasi ini butuh perjuangan di setiap demensi dan elemen NU.
Situasi politik hari ini, mesti mutlak juga menjadi garapan NU. NU harus bisa tampil sebagaimana masa lalu sebelum kemerdekaan. Semangat dan nilai-nilai NU di masa lalu perlu kembali dihadirkan di masa kini. Wahab Hasbullah begitu indah, menggubah lagu tentang syubbanul wathan, tentang kecintaan terhadap tanah air. Bahwa realitas bangsa ini yang gelap, perlu dicerahkan oleh NU. Bahwa, memang lebih baik, menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan.
Lentera-lentera harapan itu mesti selalu hidup. Tidak boleh meredup, apalagi padam dalam kehidupan. Bahwa NU bisa tampil ke seperti masa lalu, akan sangat bisa, bila di dukung oleh banyak pihak dan seluruh warga nahdiyin.
Pemimpin NU dari semua tingkatan, harus sadar dan bangkit. Sangat disayangkan bila hanya menjadi penonton dari setiap perubahan. Disayangkan pula, jika tidak memiliki keberanian. Keberanian yang bisa ditampilkan dalam kredo perjuangan NU. Berikut kredo, yang saya kutip langsung dari makalah ketika mengikuti PKP
I. KREDO PERJUANGAN
Inilah Kekuatan NU
Banyak Pemimpin NU di daerah-daerah dan juga di pusat yang tidak yakin akan kekuatan NU, mereka lebih meyakini kekuatan golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang menghembuskan propaganda agar tidak yakin akan kekuatan yang dimilikinya.
Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati mereka oleh propaganda luar yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam, tetapi hanya gelugu alias pohon kelapa sebagai meriam tiruan.
Pemimpin NU yang tolol itu tidak akan sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU ragu-ragu akan kekuatan sendiri.
Jakarta 1950
KH A. Wahab Hasbullah.[11]
Maka pun dengan itu, layaknya tradisi maulid Nabi yang dalam catatan sejarah, dijadikan sebagai simbol pemersatu umat Islam oleh Salahuddin Al ayyubi, memang perlu simbol kebersatuan dan agenda yang jelas dari NU. PBNU telah juga merumuskannya dengan kembali tentang kometmen politik kebangsaan dan kerakyatan, tentang khittah Indonesia yang ke 1945 pada 2020. Menyambut se abad NU pada 2026.[12]
Indonesia 2020 adalah Indonesia yang kembali kepada 1945. Masa baru proklamasi. Indonesia yang suci dan baru dilahirkan. Indonesia yang bebas dari imprealisme asing. Dari wahabi dan neoliberalisasi dari semua sisi.
Praktek politik kotor, hanya berupa teknis dari serangkaian ideologi dan paradigma keliru yang ada di Indonesia. Akibat dari neoliberalisasi yang berlebihan dan menuhankan uang dalam setiap dimensinya, maka politik kotor itu itu lestari dan terjadi. Ini Memang titik tolak yang perlu dilawan oleh NU. Di lawan dengan ideologi aswaja.
Tentang NU yang jadi komoditi pun, perlu disikapi tegas. Lambang NU memang sakti. Hanya saja tak boleh dijual belikan untuk ditukar suara. Kesaktian NU akan melahirkan bala bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Titik kulminasinya, sebagaimana, landasan NU, ya perlu balik lagi ke qa’iadah fiqih yan sederhana dan menjadi pegangan dari NU, berupa almuhafadhatu ala qodimis shaleh wal akhdu bil jadidil ashlah.
Ahmad baso berhasil menggambarkan, tentang qaidah fiqih ini, ia membaginya dalam dua pilar, berupaalmuhafazah dan al akhdzu. Keduanya mesti berjalan seimbang dan beriringan. Baso menilai, kaum tua dalam NU bisa bersikap sebagai al muhafadzah, sementara generasi muda, mesti menjadi al akhdu.[13]
Ini artinya, generasi pengurus NU dari semua tingkatan, mesti bisa mempertahankan kesucian dan kesaktian NU dari dunia politik kotor. Sementara kaum muda, kader-kader NU yang ada di banom, dituntut untuk selalu menjadi pelopor, bukan pengekor. Menjadi aktor perubahan dalam setiap dimensinya.
Pengurus NU, dari berbagai tingkatan layak untuk mengkoordinasikan segala ide dan gagasan ke depannya, untuk terus menjaga keutuhan NKRI. Di lain hal, di tahun politik ini, salah satu hal, yang bisa dilakukan oleh semua banom dan tingkatan bisa sebagai berikut;
IPNU dan IPPNU yang punya basis di tingkat pelajar memberikan pandangan dan pendidikan politik bagi pemilih pemula. Jumlah pemilih pemula, sekitar 6 juta pemilih, dengan tersebar di sekolah-sekolah. Ansor menggarap dunia kepemudaan dan masyarakat secara umum. Memberikan teladan tentang praktek politik yang sesuai dengan nilai yang ada di aswaja. Sementara Muslimat dan Fatayat, dengan basis perempuan, mengkampanyekan bagi pemilih perempuan.
Sementara, sisi lainnya, organisasi yang segaris ideologi dengan NU, semisal PMII, di samping berupaya untuk meningkatkan partisipasi dunia mahasiswa, juga terus melakukan kontrol terhadap pelaksaan pemilu. Agar pemilu bisa benar-banar demokratis.
Alangkah indahnya, jika semua elemen bergerak dan sama-sama berupaya untuk menyukseskan tahun politik pada 2014. Saya percaya, jika lilin harapan banyak dinyalakan oleh setiap elemen, maka gelap Indonesia akan berganti terang. Kader-kader NU bisa terus melestarikan organisasinya. Selamat menjadi NU, lahir bathin.
Tulisan ini Meraih PEnghargaan sebagai Jura II di LKTI Nasional di PMII Purwokerto
DAFTAR PUSTAKA
Barton, Greg, Biografi Gus Dur The Authorized Biografi of Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: Penerbit Lkis, 2011)
Baso, Ahmad, Agama NU untuk NKRI, Pengantar Dasar-dasar ke-NU-an di Era kebebasan dan Wahabisasi(Jakarta: Pustaka Afid, 2013)
Aziz, Ach. Taufiqil, dalam Rukun Politik Masyarakat Madura, kumpulan Buku berjudul, Jawa Timur di Mata Mahasiswa, (Surabaya: PKC PMII Jawa Timur Press, 2013).
Aziz, Ach. Taufiqil, Khittah PKB 1998, Menuju Khittah Indonesia 1945, di Kabar Madura, September 2013 M.
Elga, A. Yusrianto, Apapun Partainya, Korupsi Hobynya, (Yogyakarta: Penerbit Ircisod, 2013)
Malik Adam, Mengabdi Republik (Jilid II: angkatan 45) (Jakarta: Gunung Agung, 1984), cet 2, hal 146
Anwar, Adnan, berjudul, Out Look NU 2020. Makalah tidak disebarluaskan ke publik.
Koran Madura, 30 Januari 2014
[1] Pada awal berdirinya, 31 Januari 1926, NU hanya menjadi jama’ah. Lalu tuntutan dinamika politik nasional, NU menjadi partai politik bersaing dengan Golkar dan Masyumi. Hingga kemudian, pada 1984, NU kembali ke Khittah lagi. Kembali ke masa dulu, sebagaimana awal kelahirannya. Lalu pada 21 mei 1998, NU mendirikan PKB. Salah satu deklaratornya adalah Gus Dur.Tentang NU yang menjadi Jama’ah, serta Jam’iyah, Ahmad Baso, dalam buku terbarunya, dalam satu bab, membahas tentang ini. Baca, Ahmad Baso, Agama NU untuk NKRI, Pengantar Dasar-dasar ke-NU-an di Era kebebasan dan Wahabisasi(Jakarta: Pustaka Afid, 2013), hal. 27-42. Bandingkan juga dengan, Ach. Taufiqil Aziz, Khittah PKB 1998, Menuju Khittah Indonesia 1945, di Kabar Madura, September 2013 M.
[2] Salah satu kometmen NU yang menyejarah, adalah penerimaan NU terhadap pancasila. Sehinggapun, organisasi banom lainnya, meliputi, Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, hingga yang segaris ideologi, yakni PMII, juga menerima dan berjuang untuk mempertahankan pancasila.
[3] Dalam sejarah PKB, Gus Dur merupakan deklarator PKB. Bersama KH Munasir Allahilham, KH Ilyas Ruchyat Tasikmalaya, KH Muchid Muzadi Jember dan KH. A. Mustofa Bisri Rembang. Walaupun dalam masa selanjutnya terjadi konflik berkepanjangan hingga Gus Dur meninggal, namun tetap saja, masih banyak yang mengindentikkan Gus Dur dengan PKB. Seputar PKB dan sejarahnya, lebih jauh bisa dilihat, di Wibesite PKB
[4] Dari tiga kabupaten di Madura, tingkat money politik demikian besar. Pamekasan, Sampang hingga Bangkalan, proses politiknya tidak berjalan mulus. Tahun 2009, Pilkada Jatim ditentukan oleh tiga kabupaten di Madura itu. Lalu di tahun 2013, ketika setiap kabupaten tersebut, melaksanakan pemilihan kepala daerah, semuanya berujung di MK. Selengkapnya, bisa di baca, di Ach. Taufiqil Aziz, dalam Rukun Politik Masyarakat Madura, kumpulan Buku berjudul, Jawa Timur di Mata Mahasiswa, (Surabaya: PKC PMII Jawa Timur Press, 2013).
[5] Parahnya, pengakuan mengejutkan disampaikan Akil Mokhtar, tanggal 30 Januari 2014, yang diris oleh koran Madura, bahwa, katanya, ada permainan yang terjadi di tubuh MK. Dua hari sebelum di tangkap, kata Akil, MK telah memutuskan, bahwa yang menang kasus Pilkada Jatim, adalah khafifah Indar parawansa. Namun, yang terjadi, yang menang malah Soekarwo.
[6] Buku setebal 176 halaman ini, benar-benar memukul secara telak, tentang korupsi yang dilakukan oleh partai politik. Apapun warna dan visinya. Partai politik, adalah tempat lahirnya koruptor baru. Tuntaskan, di A. Yusrianto Elga, Apapun Partainya, Korupsi Hobynya, (Yogyakarta: Penerbit Ircisod, 2013)
[7] Adam Malik, bukan orang NU. Namun, ia begitu lugas, mengambarkan tentang Wahab, sebagai orang yang hidup bersama-sama masyarakat. Selengkapnya, bisa dilihat, Adam Malik, Mengabdi Republik (Jilid II: angkatan 45) (Jakarta: Gunung Agung, 1984), cet 2, hal 146
[8] Ini saya tahu dari tulisan Gita Wiryawan, menteri perdagangan, yang bercerita melalui tulisan tentang Kiai ini.
[9] Greg Barton, berkebangsaan Australia, menulis semua sisi tentang Gus Dur. Tahun 1994, Soeharto benar-benar melakukan intervensi luar biasa, ketika muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Pihak pemerintah, mengusung Abu Hasan. Kondisi di hari-hari terakhit Muktamar menegang. Tentara disiagakan di luar oleh pemerintah. Anak-anak muda NU bergerombol. Sama-sama menunggu hasil. Namun, Gus Dur selalu bisa tampil menjadi pemenang. Gus Dur berhasil memperoleh dukungan 174 Suara, sementara Abu Hasan hanya mendapat 142 Suara. Takbir dikumandangkan oleh anak-anak muda NU, sebagai bentuk kemenangan. Selengkapnya, Greg Barton, Biografi Gus Dur The Authorized Biografi of Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: Penerbit Lkis, 2011), hal 273.
[10] Pelatihan Kader Penggerak NU, merupakan pelatihan semisal PKD dalam PMII. NU sebagai organisasi terbesar, ternyata, dari dulu tidak ada pelatihan formal bagi pengurus NU. Baru pada masa ini, ketika dipimpin oleh KH. Sa’id Aqil Siradj, ada tim khusus instruktur kaderasi di PBNU, yang tugasnya, pergi ke cabang-cabang di seluruh Indonesia, untuk menguatkan ruh ideologi, di segenap warga nahdiyyin.
[11] Teks ini saya kutip, aslinya dari makalah yang ada di berikan oleh PBNU ketika ikut PKP. Saya kurang menemukan bahasa untuk bisa mewakili bahasa KH. Wahab Hasbullah.
[12] Lebih jauh tentang ini, dibahas dalam bentuk power point oleh Mas Adnan Anwar, berjudul, Out Look NU 2020. Makalah tidak disebarluaskan ke publik.
[13] Lebih lengkap, Ahmad Baso, Agama NU untuk NKRI, Pengantar Dasar-dasar ke-NU-an di Era kebebasan dan Wahabisasi (Jakarta: Pustaka Afid, 2013), hal. 256-258.