Guluk-Guluk - INSTIKA - Tidak mudah untuk menjadi wisudawan dan wisudawati terbaik tingkat institut. Tentu butuh kerja keras untuk mencapai penghargaan yang sangat membanggakan dan membahagiakan itu.
Itulah yang dilakukan oleh wisudawan dan wisudawati terbaik Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep, tahun akademik 2020/2021.
Wisudawan terbaik institut bernama Lukmanul Hakim dari program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dengan IPK 3,84. Sementara wisudawati terbaik institut bernama Jazilatin Nazilah dari program studi Ekonomi Syariah (ES) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan IPK 3,83.
Pihak INSTIKA menetapkan dua terbaik institut karena pelaksanaan wisuda antara putra dan putri dipisah. "Untuk putra dilaksanakan pada 27 Oktober 2021, sementara untuk putri 28 Oktober 2021," kata Dr. KH. Ach. Maimun, MAg., ketua panitia wisuda 2021.
Pemisahan ini, lanjut Dr Maimun, sesuai dengan sistem perkuliahan yang dipisah antara putra dan putri dan sesuai dengan nilai-nilai pesantren serta ajaran pengasuh Annuqayah.
Sebagai peserta wisuda terbaik, Lukmanul Hakim mengaku, menjalankan disiplin serta konsisten dalam belajar. "Saya setiap malam, setelah bangun tidur, menyempatkan diri untuk belajar kurang lebih dua jam," katanya.
Karena di waktu itu, lanjut Lukman yang masih tinggal di pondok pesantren Annuqayah ini, bisa fokus dalam belajar. "Ketika teman-teman tidur, saya bangun dan belajar," tambahnya.
Jika mendapat tugas dari dosennya, seperti membuat makalah untuk dipresentasikan di hadapan teman-temannya, ia pelajari jauh-jauh hari sebelum tiba waktu presentasi, bahkan didiskusikan terlebih dahulu bersama teman-temannya. "Sehingga saat presentasi di hadapan dosen dan teman-teman, bisa dikatakan, saya sudah cukup menguasai materi," ujarnya.
Namun, Lukman menyadari, seluruh perjuangannya dalam belajar tidak akan berbuah manis apabila tidak mendapat dukungan dan doa dari kedua orangtuanya beserta guru-gurunya. "Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ayah dan ibu serta kepada guru-guru saya," katanya.
Tidak jauh beda dengan perjuangan Lukmanul Hakim, wisudawati terbaik Jazilatin Nazilah juga mengaku punya waktu khusus dan istiqamah dalam belajar. Tetapi tidak seperti Lukmanul Hakim yang belajar setelah tidur, Jazilatin Nazilah justru belajar sebelum tidur.
"Jam belajar saya adalah mulai selesai salat Magrib hingga Isya'. Tapi seringnya sampai pukul 8 malam, atau bahkan terkadang hingga larut malam," kata Jazilatin Nazilah yang berhenti mondok sejak lulus Madrasah Aliyah Annuqayah.
Meski tidak tinggal di pondok dan membantu kedua orang tuanya di rumah, ia tetap memiliki semangat dalam belajar. Jika ada tugas membuat makalah dari dosen, seperti Lukmanul Hakim, ia segera menyelesaikannya jauh-jauh hari.
"Biasanya teman-teman saya itu mengerjakan tugas membuat makalah ketika sudah akan disetorkan kepada dosen. Saya tidak. Ketika mendapat tugas, saya langsung mengerjakannya, meski masih lama waktu penyetorannya," ujarnya.
Jazilatin Nazilah tidak menyangka akan menjadi wisudawati terbaik tingkat institut. "Ketika diumumkan pertama kali terbaik tingkat prodi, dan bukan saya yang disebut, saya langsung berpikir bahwa saya tidak akan mendapatkan yang terbaik," katanya.
Rupanya, doa kedua orang tuanya serta guru-gurunya yang mengantarkannya untuk dipanggil sebagai yang terbaik di tingkat yang lebih tinggi, yakni tingkat institut.
"Saya tidak percaya, jika nama saya yang disebut sebagai wisudawati terbaik tingkat institut," ujarnya lagi.
Ia pun bersyukur karena benar-benar menjadi yang terbaik tingkat institut.
Penulis: Masykur Arif (LP2D)