PKKMB 2026, Kiai Muhsin Amir Kenalkan Fiqih Ibadah ala Annuqayah dan Sistem Pendidikannya

Sumenep, UA Media— Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Annuqayah (UA) menghadirkan Drs. KH. Muhsin Amir sebagai narasumber materi Ke-Annuqayah-an di Aula Syarqawi, Selasa (18/8/2026). 

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak mahasiswa baru mengenal sejarah berdirinya Annuqayah, perjalanan kepemimpinan para masyayikh, sanad keilmuan, sistem pendidikan, nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta fiqih ibadah ala Annuqayah. 

Dalam pemaparannya, KH. Muhsin Amir menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Annuqayah didirikan pada 1887 M/1304 H oleh KH. Muhammad Assyarqawi bin Raden Shodiqromo. Sebelum mendirikan pesantren, KH. Muhammad Assyarqawi menempuh perjalanan keilmuan di berbagai tempat, mulai dari Pontianak, Malaysia, Pattani, hingga Makkah selama sekitar 13–14 tahun. 

"Setelah berada di Guluk-Guluk, beliau mengawali aktivitas pendidikan dengan mengajarkan Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama di sebuah langgar yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Annuqayah," katanya. 

Lebih lanjut, ia memaparkan sejarah lahirnya nama Annuqayah. Nama tersebut mulai digunakan ketika pesantren menerapkan sistem klasikal sekitar 1933 M/1352 H. Nama Annuqayah diambil dari sebuah kitab karya Imam Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi yang memuat berbagai spesialisasi ilmu agama maupun umum. 

"Istilah Annuqayah juga bermakna “bersih” dan “suci”, sehingga nama tersebut mengandung harapan agar para santri memiliki penguasaan ilmu agama dan pengetahuan umum sekaligus berhati bersih dan suci," tambahnya. 

Perjalanan Annuqayah kemudian berkembang melalui kepemimpinan dari generasi ke generasi. Setelah KH. Muhammad Assyarqawi, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Muhammad Ilyas bin KH. Muhammad Assyarqawi. 

Pada masa kepemimpinannya, Annuqayah mengalami perkembangan dalam pola pendekatan kepada masyarakat, sistem pendidikan, serta hubungan dengan birokrasi pemerintah. Perkembangan tersebut turut melahirkan pesantren-pesantren daerah yang kemudian menjadikan Annuqayah berkembang sebagai sebuah “pesantren federasi” yang bersifat otonom.

Setelah KH. Muhammad Ilyas wafat pada 1959 M, kepemimpinan Annuqayah memasuki generasi ketiga di bawah KH. Muhammad Amir bin Ilyas bin Syarqawi, yang memimpin sejak 1959 hingga 1996 M. Pada periode tersebut, kepemimpinan pesantren berlangsung secara kolektif bersama para kiai sepuh generasi ketiga.

Selain sejarah kepemimpinan, KH. Muhsin Amir juga menjelaskan sanad keilmuan para masyayikh Annuqayah yang terhubung dengan sejumlah ulama, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, dan Sayyid Muhammad Alawi Al-Hasani.

"Annuqayah memiliki perjalanan panjang yang tidak hanya dibangun melalui sistem pendidikan, tetapi juga melalui kesinambungan kepemimpinan, sanad keilmuan, dan keteladanan para masyayikh," pungkasnya. (Abd. Malik)